Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas (Parameter Kimia Organik)

Kriteria Baku Mutu Air Berdasarkan Kelas berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001

Parameter Kimia Organik

1. pH

  • Kelas I : 6 – 9
  • Kelas II : 6 – 9
  • Kelas III : 6 – 9
  • Kelas IV : 5 – 9

Keterangan : apabila secara alamiah diluar rentang tersebut, maka ditentukan berdasarkan kondisi alamiah

2. BOD (mg/L)

  • Kelas I : 2
  • Kelas II : 3
  • Kelas III : 6
  • Kelas IV : 12

3. COD (mg/L)

  • Kelas I : 10
  • Kelas II : 25
  • Kelas III : 50
  • Kelas IV : 100

4. DO (mg/L)

  • Kelas I : 6
  • Kelas II : 4
  • Kelas III : 3
  • Kelas IV : 0

Keterangan: angka batas minimum

5. NO3 sebagai N (mg/L)

  • Kelas I : 10
  • Kelas II : 10
  • Kelas III : 20
  • Kelas IV : 20

6. Kadmium (mg/L)

  • Kelas I : 0,01
  • Kelas II : 0,01
  • Kelas III : 0,01
  • Kelas IV : 0,01

6. Tembaga (mg/L)

  • Kelas I : 0,02
  • Kelas II : 0,02
  • Kelas III : 0,02
  • Kelas IV : 0,2

7. Besi (mg/L)

  • Kelas I : 0,3
  • Kelas II : (-)
  • Kelas III : (-)
  • Kelas IV : (-)

8. Timbal (mg/L)

  • Kelas I : 0,03
  • Kelas II : 0,03
  • Kelas III : 0,03
  • Kelas IV : 1

9. Minyak dan Lemak (mikro g/L)

  • Kelas I : 1000
  • Kelas II : 1000
  • Kelas III : 1000
  • Kelas IV : (-)

10. Detergen (MBAS) (mikro g/L)

  • Kelas I : 200
  • Kelas II : 200
  • Kelas III : 200
  • Kelas IV : (-)

Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas (Paramater Fisika)

Kriteria Baku Mutu Air Berdasarkan Kelas berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001

Paramater Fisika

1. Suhu ( 0C ) :

  • Kelas I : deviasi 3
  • Kelas II : deviasi 3
  • Kelas III : deviasi 3
  • Kelas IV : deviasi 5

Keterangan : deviasi temperatur dari alamiahnya

2. Residu Terlarut (TDS) (mg/L)

  • Kelas I : 1000
  • Kelas II : 1000
  • Kelas III : 1000
  • Kelas IV : 2000

3. Residu Tersuspensi (TSS) (mg/L)

  • Kelas I : 50
  • Kelas II : 50
  • Kelas III : 400
  • Kelas IV : 400

Klasifikasi dan Kriteria Mutu Air

Klasifikasi mutu air ditetapkan menjadi 4 kelas:

  1. Kelas I, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut
  2. Kelas II, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertamanan, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut
  3. Kelas III, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertamanan, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut
  4. Kelas IV, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertamanan, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut

Pengujian Parameter Air Laut di Laboratorium

Nitrat (NO3-N) secara spektrofotometri pada kisaran kadar 0,05 mg/l – 1,00 mg/l sesuai SNI 19-6964.7-2003.

1. Prinsip

Senyawa nitrat dalam contoh uji air laut direduksi menjadi nitrit oleh butiran cadmium (Cd) yang dilapisi dengan tembaga (Cu) dalam satu kolom. Senyawa nitrit akan bereaksi dengan sulfanilamide dalam suasana asam menghasilkan senyawa diazonium yang sebanding dengan banyaknya senyawa nitrit dalam contoh uji. Senyawa diozonium tersebut kemudian bereaksi dengan n-(1-naftil)-etilendiamin dihidroklorida (NED dihidroklorida) membentuk senyawa azo yang berwarna merah muda. Senyawa azo yang terbentuk ekivalen dengan banyaknya senyawa diazonium yang ekivalen dengan banyaknya nitrit dalam contoh. Warna merah muda yang terbentuk diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang optimal disekitar 543 nm.

2. Bahan

  • Air suling bebas nitrat;
  • Kertas saring bebas nitrat berukuran pori 0,45 μm;
  • Serbuk kalium nitrat, KNO3;
  • Serbuk natrium nitrit, NaNO2;
  • Air laut buatan :

Larutkan 31,0 gram NaCl; 10,0 gram MgSO4.7H2O dan 0,05 gram NaHCO3. H2O dengan 800 ml air suling bebas nitrat dalam labu ukur 1000 ml. Tepatkan sampai tanda tera. Simpan dalam botol gelas.

  • Butir cadmium (Cd) ukuran 20-100 mesh;
  • Asam klorida, HCl 6 N

Masukkan 50 ml HCl pekat ke dalam gelas piala 250 ml yang berisi 250 ml air suling bebas nitrat.

  • Larutan CuSO4 2 %

Larutkan 20 gram CuSO4.5H2O dalam 500 ml air suling bebas nitrat, lalu tepatkan menjadi 1000 ml.

  • Butir kadmium-tembaga, Cd-Cu

Cuci 25 gram butir kadmium (20-100 mesh) dengan HCl 6 N lalu bilas dengan air sampai pH netral. Rendam butir Cd dengan 100 ml larutan CuSO4  2 % selama 5 menit sampai warna biru memucat. Buang larutannya dan ulangi larutan ini dengan larutan CuSO4 2 % baru sampai terbentuk endapan coklat. Bilas dengan air untuk menghilangkan endapan Cu.

  • Larutan pekat NH4Cl-EDTA

Larutkan 13,0 gram NH4Cl dan 1,7 gram dinatrium-EDTA dalam 900 ml air suling bebas nitrat. Atur pH 8,5 dengan NH4OH pekat lalu tepatkan menjadi 1000 ml.

  • Larutan NH4Cl-EDTA encer

Encerkan 300 ml NH4Cl-EDTA pekat dengan air suling bebas nitrat menjadi 500 ml.

  • Larutan pewarna

Kedalam 800 ml air suling bebas nitrat tambahkan 100 ml H3PO4 85 % dan 10 gram sulfanilamid. Setelah larut tambahkan 1 gram n-(1-naftil)-etilendiamin dihidroklorida (NED dihidroklorida), kocok sampai larut. Tepatkan menjadi 1000 ml dengan air suling bebas nitrat. Larutan ini stabil selama 1 (satu) bulan dengan penyimpanan dalam botol gelap pada temperatur 4 0C (refrigerator).

3. Peralatan

  • Spektrofotometer;
  • Alat pengukur pH;
  • Labu ukur 50 ml, 100 ml, 1000 ml;
  • Pipet ukur 0,5; 1,0; 2,0; 4,0; 8,0; dan 10 ml;
  • Gelas ukur 50 ml, 100 lm, 200 ml;
  • Gelas piala 100 ml, 250 ml dan 1000 ml;
  • Tabung reaksi 50 ml bertutup;
  • Oven;
  • Desikator;
  • Kolom reduksi;
  • Timbangan analitik;
  • Botol semprot.

4. Persiapan dan pengawetan contoh uji

  • Saring air suling bebas nitrat melalui kertas saring bebas nitrat yang berukuran pori 0,45 μm, tampung hasil saringan. Larutan ini digunakan sebagai blanko penyaringan.
  • Saring contoh uji dengan kertas saring bebas nitrat yang berukuran pori 0,45 μm.
  • Masukkan contoh uji ke dalam botol gelas berwarna gelap bebas dari kontaminasi nitrat.
  • Apabila tidak dapat segera dianalisis maka contoh uji diawetkan dengan menambahkan asam Sulfat, H2SO4 2 ml per liter contoh uji dan disimpan pada temperatur 4 0C tidak lebih dari 48 jam.

5. Persiapan Pengujian

a. Pembuatan larutan induk nitrat, NO3-N 100 mg/l

  • Keringkan serbuk kalium nitrat, KNO3 dalam oven pada temperature 105 0C selama 24 jam;
  • Timbang 0,7218 gram kalium nitrat, KNO3 kemudian larutkan dengan 100 ml air suling bebas nitrat di dalam labu ukur 1000 ml;
  • Tepatkan sampai tanda tera.
  • Awetkan dengan menambahkan CHCl3 2 ml per liter contoh uji.

b. Pembuatan larutan baku nitrat, NO3-N 10 mg/l

  • Pipet 100 ml larutan induk nitrat ke dalam labu ukur 100 ml.
  • Tambahkan air suling bebas nitrat sampai tepat tanda tera.
  • Awetkan dengan menambahkan kloroform, CHCl3 2 ml per liter contoh uji.

c. Pembuatan larutan kerja nitrat, NO3-N

  • Pipet 0,5; 1,0; 2,0; 4,0; 8,0 dan 10,0 ml larutan baku nitrat (10 mg/l) masing-masing ke dalam labu ukur 100 ml.
  • Tambahkan air laut buatan sampai tepat tanda tera sehingga diperoleh konsentrasi nitrat, NO3-N 0,0; 0,05; 0,1; 0,2; 0,5; 1,0 mg/l.

d. Pembuatan Kolom reduksi

  • Masukkan glass wool ke bagian bawah kolom reduksi, lalu isi dengan air suling bebas nitrat.
  • Masukkan butir Cd-Cu secukupnya sehingga panjang kolom 18,5 cm. Jaga permukaan air selalu lebih tinggi dari butir Cd-Cu untuk mencegah gelembung udara terperangkap.
  • Cuci kolom dengan 200 ml larutan NH4Cl-EDTA encer.
  • Atur kecepatan alir pada 7 – 10 ml/menit;
  • Aktifkan kolom dengan melewatkan sedikitnya 100 ml larutan yang terdiri dari 25 % standar NO3-N 1,0 mg/l dan 75 % larutan NH4Cl-EDTA pekat.
  • Hitung efisiensi kolom dengan cara mereduksi minimal satu kadar larutan baku NO3-N lalu dibandingkan dengan larutan baku NO2-N dalam kadar yang sama. Jika efisiensi kolom dibawah 75 % aktifkan kembali butur Cd-Cu seperti pada pembuatan larutan pewarna.

Cara menentukan efisiensi kolom reduksi adalah sebagai berikut :

  • Buat larutan nitrat dan nitrit secara terpisah dengan kadar yang sama;
  • Lewatkan larutan nitrat melalui kolom reduksi;
  • Ukur 50 ml larutan nitrat yang sudah direduksi dan 50 ml larutan nitrit;
  • Tambahkan 2 ml larutan pewarna dan kocok;
  • Baca absorbansinya dalam kisaran waktu antara 10 menit sampai 2 jam setelah penambahan larutan pewarna;
  • Ukur absorbansinya pada panjang gelombang optimal di sekitar 543 nm.
  • Kolom tidak perlu dicuci setiap melakukan reduksi antar contoh uji. Jika dalam waktu lama kolom tidak dipergunakan, lewatkan 50 ml larutan NH4Cl-EDTA encer dan rendam butir Cd-Cu didalamnya (jangan biarkan butir Cd-Cu kering).

e. Pembuatan Kurva Kalibrasi

  • Optimalkan alat uji spektrofotometer sesuai petunjuk penggunaan alat untuk pengujian kadar nitrat;
  • Ke dalam masing-masing 25 ml larutan kerja tambahkan 75 ml larutan NH4Cl-EDTA pekat lalu kocok;
  • Lewatkan larutan di atas kolom reduksi, atur kecepatan 7 ml – 10 ml/menit;
  • Buang 20 ml tampungan pertama;
  • Selanjutnya tamping dalam labu;
  • Ukur 50 ml larutan yang sudah direduksi dan masukkan ke dalam Erlenmeyer 50 ml;
  • Tambahkan 2 ml larutan pewarna dan kocok;
  • Baca absorbansinya pada panjang gelombang optimum di sekitar 543 nm dalam kisaran waktu antara 10 menit sampai 2 jam setelah penambahan larutan pewarna;
  • Buat kurva kalibrasi :
  1. Atur pH contoh uji antara 7 – 9 dengan menambahkan HCl atau NaOH;
  2. Siapkan 25 ml contoh uji di gelas piala 250 ml;
  3. Tambahkan 75 ml larutan NH4Cl-EDTA pekat kemudian kocok;
  4. Lewatkan larutan tersebut melalui kolom reduksi;
  5. Buang 25 ml tampungan pertama;
  6. Selanjutnya tampung 50 ml contoh uji yang sudah direduksi ke dalam tabung reaksi bertutup;
  7. Tambahkan 2 ml larutan pewarna dan kocok;
  8. Ukur absorbansinya dalam kisaran waktu antara 10 menit sampai 2 jam setelah penambahan larutan pewarna pada panjang gelombang optimal disekitar 543 nm;
  9. Kadar yang terukur dalam kadar nitrat dan nitrit;
  10. Lakukan pengukuran blanko: Masukkan ke dalam 25 ml air laut buatan di dalam gelas piala 250 ml, lakukan langkah c dan h;
  11. Untuk kontrol kontaminasi pada kertas saring, lakukan juga langkah nomor c dan h terhadap 25 ml blanko penyaringan.
  12. Lakukan analisis duplo
  13. Pembuatan spike matriks :
  • Ke dalam 20 ml contoh uji tambahkan 5 ml larutan kerja 2 mg/l. kadar standar yang diperoleh 0,4 mg/l. lakukan langkah (c) sampai dengan (h).
  • Ke dalam 20 ml contoh uji tambahkan 5 ml air laut buatan. Lakukan langkah (c) sampai dengan (h).

CATATAN : Cara uji nitrat secara terpisah dilakukan terhadap 50 ml contoh uji air laut yang sama melalui langkah (g) sampai dengan (h).

f. Perhitungan

1) Efisiensi kolom reduksi. Hitung efisiensi kolom reduksi dengan perhitungan sebagai berikut :

zz

Keterangan :

A adalah prosen, % efisiensi;

B adalah absorbansi NO3-N;

C adalah absorbansi NO2-N

2) Kadar Nitrat

  • Masukkan pembacaan absorbansi contoh uji yang melewati kolom reduksi ke dalam kurva kalibrasi
  • Masukkan hasil pembacaan absorbansi contoh uji yang tidak melewati kolom reduksi
  • Kadar nitrat yang sebenarnya dalam contoh uji air laut sama dengan kadar nitrat dari hasil kolom reduksi dikurangi kadar nitrit dalam contoh uji yang tidak melewati kolom reduksi.

zzz

3) Persen temu balik (% recovery, % R)

zzzzz

Keterangan :

A adalah kadar contoh uji yang dispike

B adalah kadar contoh uji yang tidak dispike

C adalah kadar standar yang diperoleh (target value)

zzzzzx

Keterangan :

y adalah volume standar yang ditambahkan (ml);

c adalah kadar nitrat, NO3-N yang ditambahkan (mg/l)

v adalah volume akhir (ml).

Pengujian Parameter Air Laut di Laboratorium

Minyak dan Lemak secara Gravimetri dengan acuan JIS K 0102-24

a. Prinsip

Pada kondisi asam dengan pH ≤ 4, minyak dan lemak yang terlarut dalam air diekstraksi dengan heksana. Heksana yang telah mengikat minyak dan lemak diuapkan pada suhu pada suhu 80 0C. hasil ekstrak yang tertinggal (tidak teruapkan) diukur secara gravimetric dari hasil yang diperoleh merupakan konsentrasi minyak dan lemak di dalam air.

b. Peralatan dan Bahan penunjang uji

1. Peralatan

  • Neraca analitik yang berkapasitas 200 g dengan ketelitian 0,01 mg dan telah dikalibrasi pada saat digunakan;
  • Penangas listrik;
  • Oven dengan batas temperatur 220 ± 50C yang dilengkapi dengan pengatur suhu;
  • Corong pemisah 500 ml, 1000 ml dan 3000 ml;
  • Gelas ukur 25, 50, 250 dan 1000 ml;
  • Gelas piala 100 ml.

2. Bahan penunjang Uji

  • Larutan asam klorida, HCl (1+1);
  • Indicator metil orange, 0,1 %;
  • 0,1 gr indikator metil orange dilarutkan dengan air suling sampai 100 ml;
  • Heksana;
  • Serabut kaca.

3. Persiapan contoh uji

  • Sediakan contoh uji yang telah diambil menggunakan botol gelas bermulut lebar .
  • Contoh uji yang diambil sebaiknya langsung dianalisis, apabila tidak memungkinkan, maka contoh uji dapat dapat disimpan dengan cara ditambahkan H2SO4 sampai pH ≤ 2 dan didinginkan pada temperatur 4 0 Jangan digunakan setelah 28 hari.

4. Persiapan pengujian

  • Sediakan cawan porselen yang sudah bersih dan bebas dari kontaminasi, kemudian masukkan ke dalam tanur dan panaskan pada temperatur 200 0C selama 2 jam;
  • Dinginkan dalam desikator selama 30 menit, kemudian timbang dengan neraca analitik sampai diperoleh berat tetap.

5. Cara Uji

  • Masukkan 1000 ml contoh uji ke dalam corong pisah 3000 ml.
  • Tambah 2 – 3 tetes indicator metal orange dan 1 ml larutan HCl (1+1) sampai warna menjadi merah (pH ≤ 4) dan kocok sebentar.
  • Kemudian botol dibilas dengan 20 ml heksana. Masukkan kedalam corong pisah dan kocok kuat-kuat selama ± 2 – 5 menit.
  • Biarkan selama 1 – 2 menit sampai fraksi heksana terpisah dari fraksi air. Pisahkan lapisan air dan lapisan heksana. Tamping lapisan heksana pada gelas piala yang bersih.
  • Lapisan air dimasukkan kembali ke dalam corong pisah, lakukan seperti langkah c dan
  • Gabung lapisan heksana langkah d dan e kemudian bilas corong pisah dengan air suling dan gabungkan dengan lapisan heksana.
  • Pisahkan lapisan heksana dari air suling ke dalam gelas piala yang bersih.
  • Kemudian saring dengan serabut kaca, tampung ke dalam cawan porselen yang telah mempunyai berat tetap.
  • Uapkan lapisan heksana dalam cawan porselen dengan pemanas pada temperatur ± 80 0C sampai heksana teruapkan dengan sempurna.
  • Dinginkan dalam desikator selama 10 menit, kemudian timbang dengan neraca analitik sampai diperoleh berat tetap.

6. Perhitungan

Konsentrasi minyak dan lemak dengan menggunakan rumus :

zzzz

keterangan :

A = berat cawan porselen + benda uji (mg)

B = berat cawan porselen kosong (mg)

Hitung kadar minyak dan lemak dalam benda uji dengan syarat selisih kadar maksimum yang diperbolehkan antara dua pengukuran duplo adalah 10 % rata-rata hasilnya.

Pengujian Parameter Air Laut di Laboratorium

Total Suspended Solid (TSS) secara Gravimetri sesuai SNI 06-6989.3-2004

a. Prinsip

Contoh uji yang telah homogen disaring dengan kertas saring yang telah ditimbang. Residu yang tertahan pada saringan dikeringkan sampai mencapai berat konstan pada suhu 103 0C – 105 0C. Kenaikan berat saringan mewakili padatan tersuspensi total (TSS). Jika padatan tersuspensi menghambat saringan dan memperlambat penyaringan, diameter pori-pori saringan perlu diperbesar atau mengurangi volume contoh uji. Untuk memperoleh estimasi TSS, dihitung perbedaan antara padatan terlarut total dan padatan total.

b. Bahan

  • Kertas saring (glass-fiber filter) dengan ukuran pori 0,45 μm.
  • Air suling

c. Peralatan

  • Desikator
  • Oven untuk pengoperasian pada suhu 103 0C – 105 0C
  • Timbangan analitik dengan ketelitian 0,1 mg
  • Pengaduk magnetic
  • Pipet volume
  • Gelas ukur
  • Cawan aluminium
  • Cawan porselen/cawan gooch
  • Penjepit
  • Kaca arloji
  • Pompa vacum

d. Persiapan dan Pengawetan Contoh Uji

1. persiapan contoh uji

  • Gunakan wadah gelas atau botol plastic polietilen atau yang setara.

2.  pengawetan contoh uji

  • Awetkan contoh uji pada suhu 4 0C untuk meminimalkan dekomposisi mikrobiologi terhadap padatan. Contoh uji sebaiknya disimpan tidak lebih dari 24 jam.

3. Pengurangan gangguan

  • Pisahkan partikel besar yang mengapung;
  • Residu yang berlebihan dalam saringan dapat mengering dengan membentuk kerak dan menjebak air, untuk itu batasi botol uji agar tidak menghasilkan residu lebih dari 200 mg;
  • Untuk contoh uji yang mengandung padatan terlarut tinggi, bilas residu yang menempel dalam kertas saring untuk memastikan zat terlarut telah benar-benar dihilangkan;
  • Hindari melakukan pengeringan yang lebih lama, untuk mencegah penyumbatan oleh zat koloidal yang terperangkap pada saringan.

e. Persiapan pengujian

1. Persiapan kertas saring atau cawan Gooch

  • Letakkan kertas saring pada peralatan peralatan filtrasi. Pasang vakum dan wadah pencuci dengan air suling berlebih 20 ml. lanjutkan penyedotan untuk menghilangkan semua sisa air, matikan vakum dan hentikan pencucian;
  • Pindahkan kertas saring dari peralatan filtrasi ke wadah timbang aluminium. Jika digunakan cawan Gooch dapat langsung dikeringkan;
  • Keringkan dalam oven pada suhu 103 0C – 105 0C selama 1 jam, dinginkan dalam desikator kemudian timbang;
  • Ulangi langkah pada butir 5.3. sampai diperoleh berat konstan atau sampai perubahan berat lebih kecil dari 4 % terhadap penimbangan sebelumnya atau lebih kecil dari 0,5 mg.

2. Prosedur

  • Lakukan penyaringan dengan peralatan vakum. Basahi saringan dengan sedikit air suling;
  • Aduk contoh uji dengan pengaduk magnetic untuk memperoleh contoh uji yang lebih homogen;
  • Pipet contoh uji dengan volume tertentu, pada contoh diaduk dengan pengaduk magnetic;
  • Cuci kertas saring atau saringan dengan 3 x 20 ml air suling, biarkan kering sempurna, dan lanjutkan penyaringan dengan vakum selama 3 menit agar diperoleh penyaringan sempurna. Contoh uji dengan padatan terlarut yang tinggi memerlukan pencucian tambahan;
  • Pindahkan kertas saring secara hati-hati dari peralatan penyaring dan pindahkan ke wadah timbang aluminium sebagai penyangga. Jika digunakan cawan Gooch pindahkan cawan dari rangkaian alatnya;
  • Keringkan dalam oven selama 1 jam pada suhu 103 0C – 105 0C, dinginkan dalam desikator untuk menyeimbangkan suhu dan timbang;
  • Ulangi tahapan pengeringan, pendinginan dan desikator, dan melakukan penimbangan sampai diperoleh berat konstan sampai atau sampai perubahan berat lebih kecil dari 4 % terhadap penimbangan sebelumnya atau lebih kecil dari 0,5 mg.

Catatan:

a) Jika filtrasi sempurna membutuhkan waktu lebih dari 10 menit, perbesar diameter kertas saring atau kurangi volume contoh uji;

b. Ukur volume contoh uji 100 ml, bilas 10 kali menggunakan 100 ml aquadest yang menghasilkan berat residu 2,5 mg sampai dengan 200 mg. Jika volume yang disaring tidak memenuhi hasil minimum, perbesar volume contoh uji sampai 1000 ml.

c. Perhitungan

z

Keterangan :

A adalah berat kertas saring + residu kering (mg);

B adalah berat kertas saring (mg).

Pengujian Parameter Air Laut Langsung di Tempat (in-situ)

1. pH sesuai SNI 06-6989.11-2004

Cara Uji Derajat Keasaman (pH) dengan menggunakan alat pH Meter adalah sebagai berikut :

1. Metode pengukuran pH berdasarkan pengukuran aktifitas ion hydrogen secara potensiometri/elektrometri dengan menggunakan pH meter.

2. Bahan Larutan Penyangga (buffer) 4, 7 dan 10 yang siap pakai dan tersedia dipasaran, atau dapat juga dibuat dengan cara sebagai berikut :

a. Larutan Penyangga pH 4,004 (25 0C)

Timbang 10,12 gr Kalium Hidrogen Ptalat, KHC8H4O4, larutkan dalam 1000 ml air suling

b. Larutan Penyangga pH 6,863 (25 0C)

Timbang 3,387 gr Kalium Dihidrogen Fosfat, KH2PO4 dan 3,533  gr Dinatrium Hidrogen Fosfat, Na2HPO4, larutkan dalam 1000 ml air suling

c. Larutan Penyangga pH 10,014 (250C)

Timbang 2,092 gr Natrium Hidrogen Karbonat NaHCO3 dan 2,640 gr Natrium Karbonat, Na2CO3, larutkan daam 1000 ml air suling

3. Peralatan

  • pH meter dengan perlengkapannya
  • pengaduk gelas atau magnetic
  • gelas piala 250 ml
  • kertas tissue
  • timbangan analitik
  • thermometer

4. Persiapan Pengujian

  • Kalibrasi pH meter dengan larutan penyangga sesuai instruksi kerja alat setiap kali akan melakukan pengukuran
  • Untuk contoh uji yang mempunyai suhu tinggi, kondisikan contoh uji sampai suhu kamar

5. Prosedur

  • Keringkan dengan kertas tissue selanjutnya bilas elektroda dengan air suling
  • Bilas elektroda dengan contoh uji
  • Celupkan elektroda ke dalam contoh uji sampai pH meter menunjukkan pembacaan yang tetap
  • Catat hasil pembacaan skala atau angka pada tampilan dari pH meter

2. Salinitas

Salinitas diukur dengan elektroda konduktimeter dengan menggunakan larutan kalium klorida, KCl sebagai larutan baku pada suhu 25 0C.

  1. Bahan
  • Air suling dengan DHL < 1 μmhos/cm
  • Larutan baku kalium klorida, KCl 0,01 M

Larutkan 0,7456 g kalium klorida, KCl anhidrat yang sudah dikeringkan pada suhu 110 0C selama 2 jam dengan air suling dan encerkan sampai volume 1000 ml. Larutan ini pada suhu 25 0C mempunyai DHL 1413 μmhos/cm.

  • Larutan baku kalium klorida, KCl 0,1 M

Larutkan 7,4560 g kalium klorida, KCl anhidrat yang sudah dikeringkan pada suhu 110 0C selama 2 jam dengan air suling an encerkan sampai volume 1000 ml. Larutan ini pada suhu 25 0C mempunyai DHL 12900 μmhos/cm.

  • Larutan baku alium klorida, KCl 0,5 M

Larutkan 37,2800 g kalium klorida, KCl anhidrat yang sudah dikeringkan pada suhu 110 0C selama 2 jam dengan air suling dan encerkan sampai volume 1000 ml. Larutan ini pada suhu 25 0C mempunyai DHL 58460 μmhos/cm.

2. Peralatan

  • Timbangan analitik
  • Konduktimeter
  • Labu ukur 1000 ml
  • Thermometer
  • Gelas piala 100 ml

3. Kalibrasi Alat

  • Cuci elektroda dengan larutan KCl 0,01 M sebanyak 3 kali
  • Atur suhu larutan KCl 0,01 M pada suhu 25 0C
  • Celupkan elektroda ke dalam larutan KCl 0,01 M
  • Tekan tombol kalibrasi
  • Atur sampai menunjukkan angka 1413 μmhos/cm (sesuai instruksi kerja alat)

Catatan : apabila DHL contoh uji lebih besar dari 1413 μmhos/cm, lakukan  tahapan pada kalibrasi alat dengan menggunakan larutan baku KCl 0,1 M (DHL = 12900 μmhos/cm) atau KCl 0,5 M (DHL = 58460 μmhos/cm)

4. Prosedur

  • Bilas elektroda dengan contoh uji sebanyak 3 kali
  • Celupkan elektroda ke dalam contoh uji sampai konduktimeter

3. Suhu sesuai SNI 06-6989.23-2005

Air raksa dalam thermometer akan memuai atau menyusut sesuai dengan panas air yang diperiksa, sehingga suhu air dapat dibaca pada skala thermometer (0C).

1. Peralatan

Thermometer air raksa yang mempunyai skala sampai 110 0C

2. Penetapan Contoh Uji

a. Penetapan contoh uji air permukaan

  • Thermometer langsung dicelupkan ke dalam contoh uji biarkan 2 menit sampai dengan 5 menit sampai thermometer menunjukkan nilai yang stabil;
  • Catat pembacaan skala thermometer tanpa mengangkat lebih dahulu thermometer dari air.

b. Penetapan contoh uji air pada kedalaman tertentu

  • Pasang thermometer pada alat pengambil contoh uji;
  • Masukkan alat pengambil contoh uji ke dalam air pada kedalaman tertentu untuk mengambil contoh uji;
  • Tarik alat pengambil contoh uji sampai ke permukaan;
  • Catat skala yang ditunjukkan thermometer sebelum contoh air dikeluarkan dari alat pengambil contoh.